Catatan Lusuh Diaz


Prolog
Diaz tetap berpetualang, ia tak lagi mempertanyakan cintanya yang kandas begitu saja di pelataran urban, ia melanjutkan perjalanan yang ia yakini sebagai perhelatan kemanusiaan, ia tak pernah menetap lama, hanya sejenak dan berbuat semampunya untuk manusia sekitarnya, lalu berpindah-pindah dari kota ke kota, desa ke desa, hingga ia mendapatkan tempat dimana ia merasa layak untuk berlabuh, ia menjadi manusia bebas, tak lagi terkait oleh apapun dan siapapun, sejenak dalam kesepiannya, ia hanya menuliskan bait demi bait puisi, menorehkan luka dalam tinta tersisa dan kertas yang warnanya tak lagi cemerlang, Buku harian Diaz, tentang sejarah perjalanan pribadi, sebuah catatan yang sekilas tak bernilai namun menjelajah makna, catatan keterpurukan dan kegigihan, dunia tak lagi ambisi dalam benak diaz, melainkan hanyalah ruang rusak yang harus di perbaiki, Negara dalam persepsi Diaz adalah sebuah ruang perusak kemanusiaan dan politik dalam realita adalah kehinaan, ia tak mencerca pemerintah atau manusia yang gemar menyebar slogan di televisi, sebagai manusia bebas ia bebas menjadi apa saja yang ia inginkan, Petani, Pengamen, Supir Taksi, hingga penjaga warnet atau tukang Koran, di sisi lain Diaz memang pribadi yang menganggap pekerjaan apa saja mulia, bilamana itu tiada mencuri atau mencelakakan siapapun, terdidik sebagai mahasiswa dengan kemampuan otak diatas rata-rata, ia memilih untuk menjadi petualang, yang dapat melakukan apa saja, menjadi apa yang diinginkan dan itulah dirinya..

Bagian I
12 Januari 2005
Sebuah café kecil di pingiran kota Bandung aku bertemu dengannya, berbadan tinggi tegap, sedang bersama seorang wanita cantik duduk menikmati teh hangat, berbincang tentang pandangan hidup dan idealisme, sosok pemuda yang berapi-api, sambil tertawa terbahak menyaksikan televisi yang menampilkan politisi yang menyebarkan slogan, “bodoh.. Bodoh.. entah kenapa masih banyak yang senang di bodohi, di zaman seperti ini, dimana teknologi sudah maju, dan sebagian rakyat kita masih saja gemar di bodohi, dan mundur kebelakang oleh orang orang-orang yang pandai membuat slogan namun licik, picik dan munafik, “ Diaz berujar..
Saya pun tertarik mendekat, dan memperkenalkan diri, nama saya Satrio dan saya berasal dari Magelang, jawa tengah, ia pun membalas, nama saya Diaz saya berasal dari Jakarta, silahkan duduk bersama kita, dan ia memperkenalkan wanita cantik di sampingnya, perkenalkan dia Aurel, ia kekasih saya yang sedang menyelesaikan kuliah di Bandung.. Ujar Diaz.
Selama satu jam kami mengobrol tentang apa saja, bersama-sama teman Aurel dan beberapa teman diaz, hingga tiba kami bertuker nomor Handphone, dan sama-sama meninggalkan café tersebut, hingga suatu ketika akhirnya kami bertemu kembali..
Bersambung..

Komentar